Ahlihadits Ibnu Hajar As-Asqalani (773-852 H) meriwayatkan sebuah hadits nabi yang menyebutkan sepuluh jenis orang yang shalatnya tidak diterima Allah SWT. Hadits tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Syekh Nawawi Banten dalam karyanya, Nasha'ihul Ibad, halaman 70. SiksaKubur bagi Orang yang Lalai dalam Shalat Pertanyaan: Apakah orang yang lalai shalat (akan) berat hukuman siksanya di kubur kelak? Agung (Agungsp**@***.co.id) Jawaban: ImamAl Ghazali ber kata, lalai adalah lawan dari ingat. Karena itu, barang siapa lalai dalam seluruh shalatnya, tidaklah mungkin ia mendirikan shalat untuk mengingat-Nya. Di sisi lain, Allah SWT berfirman, "Dan janganlah engkau termasuk dalam golongan orang-orang lalai." (QS al-Araf: 205). Adapunmenurut Imam Ibnu Mundzir yang dimaksud orang yang lalai terhadap shalatnya adalah orang yang mengerjakan shalat dengan riya artinya ia shalat kalau ada orang lain yang melihat karena akan mendapatkan pujian dan menilai baik darinya, sementara jika tidak ada orang lain maka ia meninggalkan shalat. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, ImamAl Ghazali berkata, lalai adalah lawan dari ingat. Karena itu, barang siapa lalai dalam seluruh salatnya, tidaklah mungkin ia mendirikan salat untuk mengingat-Nya. Di sisi lain, Allah SWT berfirman, "Dan janganlah engkau termasuk dalam golongan orang-orang lalai" (QS al-Araf: 205). wirausaha percaya bahwa kesuksesan atau kegagalan sebuah usaha tergantung pada. loading...Orang yang salat tapi celaka adalah mereka yang lalai dalam salatnya, suka berbuat riya dan enggan memberikan bantuan barang-barang berguna kepada yang membutuhkan. Foto ilustrasi/ist Siapakah orang yang salat tapi dihukumi celaka? Ini merupakan peringatan bagi mereka yang lalai dalam salatnya. Orang-orang yang lalai ini termasuk kategori munafik dan mendustakan agama. Setidaknya ada tiga ciri orang yang salat tapi celaka. Berikut firman Allah dalam Al-Qur'an ููŽูˆูŽูŠู’ู„ูŒ ู„ูู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ููŠู†ูŽ. ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู‡ูู…ู’ ุนูŽู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ูู…ู’ ุณูŽุงู‡ููˆู†ูŽ . ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู‡ูู…ู’ ูŠูุฑูŽุงุกููˆู†ูŽ . ูˆูŽูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนููˆู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุนููˆู†ูŽArtinya "Maka celakalah orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan." QS. Al-Ma'un ayat 4-73 Ciri Orang yang Salat Tapi Celaka1. Orang-orang yang Lalai Terhadap SalatnyaDalam tafsir ringkas Kemenag dijelaskan, ayat ini mengungkapkan sebuah ancaman yaitu orang yang mengerjakan salat dengan tubuh dan lidahnya, namun tidak sampai ke hatinya. Dia lalai dan tidak menyadari apa yang diucapkan lidahnya dan yang dikerjakan anggota tubuhnya. Ia rukuk dan sujud dalam keadaan lalai, ia mengucapkan Takbir tetapi tidak menyadari apa yang diucapkannya. Semua itu hanya gerak biasa dan kata-kata hafalan semata-mata yang tidak mempengaruhi apa-apa, tidak ubahnya seperti robot. Bisa jadi orang-orang awam yang tidak memahami makna bacaan salatnya. Ibnu Abbas dan lain-lainnya dalam tafsir Ibnu Katsir mengatakan, makna yang dimaksud ialah orang-orang munafik yang mengerjakan salatnya terang-terangan, sedangkan dalam kesendiriannya mereka tidak salat. Bahkan mengerjakannya di luar Kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda "Itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik. Dia duduk menunggu matahari; dan manakala matahari telah berada di antara kedua tanduk setan yakni akan tenggelam, maka bangkitlah ia untuk salat dan mematuk salat dengan cepat sebanyak empat kali, tanpa menyebut Allah di dalamnya melainkan hanya sedikit."2. Berbuat RiyaCiri orang yang mengerjakan salat tapi celaka berikutnya adalah mereka yang suka berbuat riya. Artinya, dia beramal tanpa rasa ikhlas, melainkan demi mendapat pujian dan penilaian baik dari orang lain. Dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda "Sesungguhnya di dalam neraka Jahanam benar-benar terdapat sebuah lembah yang neraka Jahanam sendiri meminta perlindungan kepada Allah dari keganasan lembah itu setiap harinya sebanyak empat ratus kali. Lembah itu disediakan bagi orang-orang yang riya pamer dari kalangan umat Muhammad yang hafal Kitabullah dan suka bersedekah, tetapi bukan karena Allah. Dan juga bagi orang yang berhaji ke Baitullah dan orang yang keluar untuk berjihad tetapi bukan karena Allah." HR At-Tabarani3. Enggan Memberikan Bantuan Barang-barang BergunaAllah menambahkan sifat pendusta bagi orang yang lalai dalam salatnya. Yaitu mereka tidak mau memberikan barang-barang berguna Al-Maa'uun yang diperlukan oleh orang-orang yang membutuhkannya. Sedangkan barang itu tak pantas ditahan seperti periuk, kapuk, cangkul, dan sejenisnya. Ibnu Abbas menafsirkan Surat Al-Ma'un ayat 7 ini yakni peralatan rumah tangga dapur. Sedangkan Ikrimah mengatakan bahwa puncak Al-Ma'un ialah Zakat mal, sedangkan yang paling rendahnya ialah tidak mau meminjamkan ayakan, timba, dan jarum. Dari Ali ibnu Fulan An-Nuamairi, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabdaุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฃูŽุฎููˆ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู‚ููŠูŽู‡ู ุญูŽูŠู‘ูŽุงู‡ู ุจูุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู ูˆูŽูŠูŽุฑูุฏู‘ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนู ุงู„ู’ู…ูŽุงุนููˆู†ูŽ"Orang muslim adalah saudara orang muslim lainnya; apabila mangucapkan salam, maka yang disalami harus menjawabnya dengan salam yang lebih baik darinya, ia tidak boleh mencegah Al-Ma'un." tafsir Ibnu KatsirItulah orang-orang salat namun dihukumi celaka. Semoga Allah menjauhkan kita dari perkara tersebut. Baca Juga rhs Sebagai fondasi agama, shalat menjadi ibadah terpenting di dalam Islam. Jangankan tidak melakukannya, melalaikannya pun menjadi sebuah pelanggaran. "Maka, celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya."QS al-Maun 4- 5. Dalam menafsirkan ini, Imam Ibnu Katsir menukil salah satu pendapat ulama generasi tabiin, yakni Atha ibnu Dinar. Dia me muji Allah SWT yang telah me nyebut lalai dari shalat dan bukan lalai dalam shalat. Mereka lalai karena tidak menunaikannya pada awal waktu. Mereka menangguhkannya sampai akhir waktu terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan. Maka, celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. Dalam menunaikan shalat, ada kalanya mereka tidak memenuhi rukun-rukun dan persyaratan sesuai dengan apa yang diperintahkan. Adakalanya juga mereka tidak khusyuk dan tidak merenungkan maknanya. Menurut Atha, pengertian lalai dalam ayat tersebut mencakup semua itu. Meski demikian, dia memberi catatan, orang yang menyandang sesuatu dari sifat-sifat tersebut berarti dia mendapat bagian dari apa yang diancamkan oleh ayat ini. Barang siapa yang menyandang semua sifat tersebut, berarti telah sempurnalah bagiannya. Jadilah dia seorang munafik dalam amal perbuatannya. Salah satu tujuan adanya perintah shalat, yakni untuk mengingat Allah SWT. "Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku."QS Thaha 14. Imam Al Ghazali berkata, lalai adalah lawan dari ingat. Karena itu, barang siapa lalai dalam seluruh shalatnya, tidaklah mungkin ia mendirikan shalat untuk mengingat-Nya. Di sisi lain, Allah SWT berfirman, "Dan janganlah engkau termasuk dalam golongan orang-orang lalai." QS al-Araf 205. Ayat tersebut bermakna larangan yang memiliki makna lahir sebagai pengharaman. Tak hanya cukup di situ, Allah SWT pun berkata, "Hingga kalian me ngerti apa yang kalian katakan." QS an-Nisa 43. Keadaan ini menjadi sebab dilarangnya orang mabuk untuk shalat. Kondisi ini pun berlaku kepada orang-orang yang lalai serta orang yang pikirannya timbul dan tenggelam. Dia selalu waswas dalam shalatnya. Pikirannya dipengaruhi oleh dunia meski berada dalam rukuk dan sujud. Maka dari itu, amat benar perkataan Rasulullah SAW, "Sesungguhnya shalat hanya kemantapan hati dan kerendahan diri." Nabi SAW juga membatasi sabdanya dengan alif dan lam serta dengan kata 'innama'. Maksudnya, menetapkan dan menguatkan. Begitu juga sabda Rasulullah SAW, "Barang siapa shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, ia tidaklah bertambah dari Allah kecuali jauhnya." Menurut Imam Al Ghazali, shalatnya orang lalai itu tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar. Barang siapa shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, ia tidaklah bertambah dari Allah kecuali jauhnya. Tidak heran jika Nabi SAW bersabda, "Betapa banyak orang yang melaksanakan shalat, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya selain kelelahan dan kepayahan. " Bukankah Nabi SAW juga bersabda, "Tidaklah seorang hamba mendapatkan sesuatu dari shalatnya selain apa yang disadari oleh akalnya." Enam ungkapan Al-Ghazali menghimpun sikap-sikap batin dalam enam ungkapan. Kehadiran hati, pemahaman makna, sikap mengagungkan, rasa takut, rasa harap, dan rasa malu. Kehadiran hati adalah kosongnya hati dari segala sesuatu selain dari apa yang dia kerjakan dan ucapkan. Jadi, ilmu tentang perbuatan dan perkataan selalu mengiringi keduanya. Pikiran pun tidak beredar selain kepada keduanya. Pemahaman terhadap makna perkataan merupakan sesuatu yang berada di balik kehadiran hati, yaitu mengandungnya hati atas ilmu tentang makna lafal. Betapa banyak makna-makna halus yang dipahami oleh orang yang mengerjakan shalat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar. Sikap mengagungkan adalah sesuatu yang berada di balik ke hadiran hati dan pemahaman ser ta meningkatkan keduanya. Rasa takut meningkatkan sikap mengagungkan, yakni rasa takut yang ditumbuhkan oleh pengagungan dan pemuliaan. Rasa harap adalah hasrat untuk mendapat pahala dari Allah SWT. Penyeimbangnya adalah rasa takut terhadap sik saan dari Allah atas kelalaiannya dalam menjalankan syariat-Nya. Terakhir, rasa malu bermakna merasa diri berkekurangan dalam menjalan kan syariat dan merasa banyak dosa. Lantas, apa penyebab hadirnya sikap batin ini? Al Ghazali melanjutkan, kehadiran hati disebabkan oleh perhatian. Ia tidak hadir pada apa yang tidak kita perhatikan. Hati itu tercipta demikian dan tunduk kepada hal tersebut. Ketika dia tidak hadir dalam shalat, ia sedang beredar pada urusan-urusan dunia yang menarik perhatian. Pemahaman disebabkan oleh pemusatan hati untuk memahami makna. Cara memperolehnya, yakni dengan pemusatan pikiran disertai dengan kesiagaan penuh untuk menghalau segala bisikan ketika shalat. Caranya, berlepas diri dari berbagai sebab yang memancing bisikan setan. Sikap mengagungkan disebabkan oleh dua keadaan hati. Pertama, pengenalan tentang ke muliaan dan keagungan Allah Azza wa Jalla. Kedua, pengenalan tentang kehinaan dan kerendah an diri serta kejadian diri sebagai hamba yang ditundukkan dan dipelihara. Rasa takut timbul dari keadaan jiwa yang lahir dari pengenalan terhadap kekuasaan Allah dan keberpengaruhan-Nya dan keterlaksanaan kehendak-Nya. Tanpa disertai dengan menyombongi-Nya. Adapun rasa harap lahir dari pengenalan tentang kelembutan Allah, kemurahan-Nya, kemerataan pemberian-Nya, dan kecermatan ciptaan-Nya. Sementara itu, rasa malu muncul karena adanya perasaan kekurangan dalam beribadah dan mengetahui ketidakmampuan diri untuk menegakkan hak-hak Allah Azza wa Jalla.

orang yang lalai dalam shalatnya termasuk golongan orang yang